Demam Berdarah Dengue


Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti, namun spesies lain seperti Aedes Albopictus juga dapat menjadi vektor penular. BDB banyak di temuka di daerah beriklim tropis seperti Indonesia, Malaysia, India, Brazil, dsb. Terhitung sejak tahun 1968 hingga tahun 2009, World Health Organization (WHO) mencatat negara Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara.

Jumat, 17 Mei 2017 Tim PKRS (Promosi Kesehatan Rumah Sakit) Karima Utama Surakarta melaksanakan penuluhan kesehatan tentang Demam Berdarah Dengue. Hal ini di maksudkan agar pengunjung dan keluarga pasien mengerti tentang penyakit DBD dan cara pencegahannya.

Beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya DBD antara lain rendahnya status kekebalan kelompok masyarakat dan kepadatan populasi nyamuk penular karena banyaknya tempat perindukan nyamuk yang biasanya terjadi pada musim penghujan.

Aktifitas menggigit biasanya mulai pagi sampai petang hari dengan 2 puncak aktifitas antara pukul 09.00 – 10.00 dan pukul 16.00 – 17.00, dan biasanya yang menggigit manusia merupakan nyamuk Aedes Aegypti betina.

Adapun mekanisme penularan DBD yaitu seseorang adanya virus dengue di dalam darah seseorang. Virus ini berada dalam darah selama 4–7 hari. Bila penderita DBD digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut terhisap masuk kedalam lambung nyamuk, selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk di dalam kelenjar liurnya. Kira-kira 1 minggu setelah menghisap darah penderita nyamuk tersebut siap menularkan kepada orang lain. Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya dan menjadi penular (Infektif).

 

Penegakan Diagnosa DBD Kriteria Klinis dan Kriteria Laboratoris (Soedarmo et al, 2002)

KLINIS

1. Demam tinggi mendadak, terus menerus selama 2-7 hari.

2. Terdapat manifestasi pendarahan seperti torniquet (+), petechiae, echimosis, purpura, perdarahan mukosa, epitaksis, perdarahan gusi, dan hematemesis dan atau melena.

3. Pembesaran hati.

4. Syok ditandai dengan nadi lemah dan cepat, tekanan nadi turun, tekanan darah turun, kulit dingin.

LABORATORIS

1. Trombositopenia (100.000µl atau kurang).

2. Hemokonsentrasi, Peningkatan Hematokrit 20% atau lebih.

 

Belum ada vaksin yang tersedia secara komersial untuk penyakit mencegah terjadinya DBD, pencegahan utama demam berdarah dapat di lakukan dengan menghapuskan atau mengurangi vektor nyamuk DBD. Pemberantasan sarang nyamuk DBD adalah kegiatan membrantas telur, jentik dan kepompong nyamuk DBD di tempat-tempat pembiakannya.

Adapun cara pemberantasan sarang nyamuk DBD dilakukan dengan cara “3M”, yaitu :

  1. Menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air, seperti : Bak mandi/WC, drum, dll. (M1)
  2. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air, seperti : Gentong Air, Tempayan, dll (M2).
  3. Mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan (M3).

Dengan pemberian informasi tentang DBD dari Tim PKRS Karima Utama Surakarta, pengunjung dan keluarga pasien diharapkan tidak hanya tahu, tetapi juga paham sehingga dapat menerapkanperilaku sehat dan dapat terhindar dari penyakit DBD.

Sumber :

Soedarmo S. et al., 2002. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis. Jakarta : Badan Penerbit IDAI.